Senin, 02 Oktober 2017

Busana Abdi Dalem Karaton

Jika kita sering melihat sebagai kaum lelaki warga jogja mengenakan busana atau pakaian lengkap dengan iket kepala(blangkon), baju lurik bawahan jarik, dan terselip pendhok/keris mereka boleh jadi seorang abdi dalem yang sedang akan pulang dari keraton Yogyakarta dan pakaian dinas yang mereka kenakan tersebut, yakni baju yang dikenakan kaum lelaki dinamakan "peranakan".
Bentuk pakaian peranakan ini tidak seperti kemeja/baju pada umumnya, karena potongan bagian depan berhenti dibagian ulu hati. Terdapat enam buah kancing dileher yang melambangkan rukun iman, serta lima buah kancing di ujung lengan yang melambangkan rukun Islam (seperti kita ketahui bersama bahwa keraton yogyakarta dibangun berlandasan agama Islam).
Model baju ini dinamakan demikian agar Abdi Dalem satu dan yang lain menjalin persaudaraan selayaknya saudara kandung atau satu keturunan/peranakan.


Untuk bahan yang digunakan pada baju peranakan adalah kain lurik dengan motif terlupat (garis berseling 3 dan 4) mungkin sejenis kain tenun. Umumnya lurik yang dipakai berwarna biru tua atau biru laut yang menandakan kekhusyukan hati sedalam lautan. Bagi Darah Dalem (pangeran hingga cucu/wayah), boleh menggunakan lurik berwarna selain biru tua.
Disamping busana 'peranakan' ada model pakaian lain yang disebut  atela. Baju atela berwarna putih dikenakan oleh Abdi Dalem berpangkat Wedana ke atas pada upacara-upacara besar seperti Ngabekten & Garebeg.Selain atela putih,juga ada beskap atau atela berwarna hitam. Atela hitam dikenakan pada acara-acara tertentu,seperti Kondur Gangsa pada bulan Maulud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar